Love Is Blind ???

Love is Blind ??

“Love is Blind” kata2 inilah yg sering kita denger dari sebuah mahakarya besar yg diberikan Allah pada kita yaitu “love” atau cinta. apakah betul cinta itu buta???

Cinta memang buta,,,tp buta disini bukanlah sesuatu hal yg nista, hina yg sangat tidak boleh untuk ditiru.. karena ketiga kata itu bisa kita ambil kekuatan maknanya dari sisi positifnya…

Banyak sekali orang yg menistakan cinta, mendustakan cinta, mereka menganggap cinta itu membuat seseorang bisa berbuat seenaknya sendiri, berbuat sesuatu yg merugikan orang lain, menghalalkan segala cara untuk mendapat cinta dari seorang lawan jenisnya. mereka memandang cinta itu dari semua segi negatif yg mereka punya… mereka kemana2 membawa spanduk dalam otak mereka dengan tulisan yg sangat besar “love is blind” mereka seperti sales panci yg mendatangi rumah kerumah hanya untuk mengatakan “love is blind”. sebenarnya merekalah yg blind / buta karena tidak mengerti makna dari cinta sejati.

Cinta sejati adalah cinta yang memberikan kekuatan yang tidak pernah terbayangkan oleh kita. Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan. Itulah cinta, Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

Kadang kita tidak sadar cinta telah membuat kita menjadi sekuat Supermen dan secerdas Einstein… itulah cinta… cinta bisa memfosir kemampuan kita sampai puncak tertinggi yg tak pernah terbayangkan sedikitpun oleh kita… subhanAllah…

Cinta memang membuat kita buta… buta akan hal2 yg menghalangi pandangan kita…pandangan yg menjebak kita kedalam lubang kegagalan yg sangat dalam, yg bisa mematahkan semangat hidup kita…

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi
bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, ia bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah
oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipuan dan perkara lain-lain yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, kesetiaan, budi pekerti yang tinggi dan perkara lain-lain yang terpuji.

Kata-kata cinta yang lahir hanya sebatas di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas, maka mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Sobat…Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Nuhun,

Salam Adyi

Pulang Kampung

Waaahhhh..setelah 4 bulan berkutik ma rumus2 fisika,,,akhirnya PulKam jg…
bisa ketemu ma si kecil : HI (Haidar Kenshi Ozora) ma  Berliana…he2

agak berat jg ningglain Bandung…tp tetep Semangattttt…..

Selamat tinggal Bandung…
ntar balik lg lah….huahahahahaha

Kalung Annisa

Kalung Annisa

Ini cerita tentang Annisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Annisa menemani Ibunya berbelanja disuatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Annisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Annisa sangat ingin memilikinya. Tapi…dia tahu, pasti Ibunya akan keberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat kesupermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. “ibu, bolehkah Annisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi…”. Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Annisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15.000,-.

Dilihatnya mata Annisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tidak mau bersikap tidak konsisten…” Oke… Annisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?”. Annisa mengangguk lega dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki keraknya. “Terimakasih…,Ibu”.

Annisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tidak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab kata Ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau…

Setiap malam sebelum tidur, Ayah Annisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya “Annisa…, Annisa sayang nggak sama Ayah?”. “Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Annisa sayang Ayah!”. “Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu…”. “Yah… jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil “Si Ratu” boneka kuda dari nenek…! Itu kesayanganku juga”. ”ya sudah sayang…, nggak apa-apa!”. Ayah mencium pipi Annisa sebelum keluar dari kamar Annisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,” Annisa…, Annisa sayang nggak sama Ayah?”. “Ayah, Ayah tahu bukan kalau Annisa sayang sekali pada Ayah?”. “Kalau begitu berikan pada Ayah kalung mutiaramu”. “Jangan Ayah… tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini…” kata Annisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Annisa sedang duduk diatas tempat tidurnya. Ketika didekati, Annisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam diatas pangkuan. Air mata membasahi pipinya…” Ada apa Annisa?”. Tanpa berucap sepatah katapun, Annisa membuka tangannya. Didalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya. “Kalau Ayah mau… ambilah kalung Annisa”. Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Annisa. Kalung itu dimasukkan kedalam kantung celana. Dan dari kantung yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Annisa. “Annisa… ini untuk Annisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau”. Ya… ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Annisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T tekadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naïf dari Annisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Semoga Bermanfaat…